Semangat Tak Terguyur Hujan: Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Tebing Tinggi Tetap Khidmat dan Sukses
Tebingtinggi Cerita– Langit kelabu dan rintik hujan yang berubah menjadi deras sejak dini hari tidak sedikitpun mengikis semangat nasionalisme warga Kota Tebing Tinggi. Meskipun rencana semula untuk menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 di Lapangan Merdeka harus berubah, namun gelora penghormatan terhadap dasar negara tetap menyala-nyala. Dengan kelincahan dan kebijaksanaan panitia, lokasi upacara dipindahkan ke Anjungan Sri Mersing yang masih berada dalam kompleks Lapangan Merdeka, menjadikan momen bersejarah ini tetap berlangsung dengan khidmat, lancar, dan penuh sukses.
Keteguhan di Tengah Cuaca: Perpindahan yang Tertata Rapi
Hujan deras yang mengguyur Kota Tebing Tinggi pada pagi hari, Rabu (1/10/2025), menjadi ujian pertama bagi penyelenggaraan upacara. Namun, alih-alih menciutkan nyali, kondisi ini justru memacu efisiensi dan soliditas panitia. Keputusan untuk memindahkan upacara dari tengah lapangan ke Anjungan Sri Mersing diambil dengan cepat dan tepat. Anjungan yang teduh dan strategis ini terbukti menjadi alternatif yang sempurna, melindungi seluruh peserta upacara dari guyuran hujan tanpa mengurangi esensi dan gravitas acara. Perpindahan lokasi ini menjadi simbol nyata bahwa semangat mempertahankan nilai-nilai Pancasila tidak akan pernah surut oleh rintangan apa pun, termasuk cuaca.
Insan Negara Berpadu: Susunan Petugas Upacara yang Penuh Makna
Upacara yang penuh hikmat ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Tebing Tinggi, H. Iman Irdian Saragih, yang bertindak selaku Inspektur Upacara. Kehadiran beliau di barisan terdepan mempertegas komitmen pemerintah kota dalam mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai Pancasila. Sementara itu, komando lapangan dipercayakan kepada Danramil 13/TT, Kapten Inf. Ismail Marzuki Siahaan, yang menjabat sebagai Komandan Upacara, mencerminkan sinergi yang apik antara pemerintah sipil dan unsur TNI dalam menjaga kedaulatan negara.
Rangkaian acara berjalan dengan lancar dan penuh penghayatan. Pembacaan Pembukaan UUD 1945 yang dibawakan oleh Arya Siagian mengingatkan semua pihak pada kontrak sosial tertinggi bangsa. Momen yang tak kalah mengharukan adalah pembacaan naskah ikrar oleh Ketua DPRD Kota Tebing Tinggi, Sakti Khadaffi Nasution, yang diucapkan dengan penuh keyakinan, menguatkan tekad bersama untuk tetap setia pada Pancasila. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kakan Kemenag Kota Tebing Tinggi, Muhammad David Saragih, menyiratkan pesan bahwa iman dan ketakwaan merupakan landasan moral dari pengamalan Pancasila.
Kehadiran sejumlah pejabat tinggi kota, seperti Kapolres Tebing Tinggi AKBP. Simon Paulus Sinulingga, Ketua PN Hajar Widianto, Kasi PAPBB Kejari Said Reja Pahlevi, Danramil 24/TTSB Kapten Inf. A. Malik, dan Katim Rehabilitasi BNN Kota Mahsuriani, semakin menyempurnakan nuansa kebersamaan dan persatuan dalam peringatan ini.
Khidmat yang Berbeda: Tanpa Pengibaran Bendera Merah Putih
Salah satu hal yang menonjol dalam upacara tahun ini adalah tidak adanya prosesi pengibaran Bendera Merah Putih. Kebijakan ini bukanlah sebuah kelalaian, melainkan implementasi dari ketetapan pemerintah pusat yang tertuang dalam Surat Edaran Kemendikdasmen Nomor 21435/A/TU.02.03/2025 dan Surat Edaran Kementerian Kebudayaan Nomor 8417/MK.L/TU.02.03/2025.
Berdasarkan pedoman tersebut, pada Hari Kesaktian Pancasila, Bendera Merah Putih telah dikibarkan satu tiang penuh sejak pukul 06.00 waktu setempat. Kebijakan ini penuh dengan makna filosofis. Pengibaran satu tiang penuh di pagi hari melambangkan bahwa Pancasila telah berdiri tegak dan utuh sebagai pilar negara, menyinari seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara sepanjang hari. Ketidakhadiran prosesi pengibaran dalam upacara inti justru memusatkan perhatian pada inti peringatan, yaitu perenungan mendalam tentang “kesaktian” Pancasila yang mampu bertahan melalui segala bentuk ujian dan ancaman.
Merenungi Sejarah, Memperkuat Masa Depan
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967, tidak dapat dipisahkan dari sejarah kelam Gerakan 30 September (G30S). Hari ini adalah bentuk refleksi bangsa atas perjuangan mempertahankan ideologi negara dari rongrongan. Upacara di Tebing Tinggi kali ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya mengingat sejarah, tetapi lebih dari itu, mengambil pelajaran dan nilai-nilai keteladanan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Wali Kota H. Iman Irdian Saragih menekankan bahwa kesaktian Pancasila bukanlah hal yang mistis, melainkan terletak pada kemampuannya menjadi pemersatu bangsa yang beragam. “Hari ini, hujan menguji fisik kita, tetapi sejarah telah menguji ketahanan ideologi kita. Pancasila telah terbukti sakti, dan tugas kitalah untuk menjaganya dengan mengamalkan nilai-nilainya: gotong royong, toleransi, dan keadilan sosial di tengah masyarakat,” serunya penuh semangat.
Penutup: Kesaktian yang Tak Terguyur
Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 di Kota Tebing Tinggi mungkin akan dikenang sebagai upacara yang ‘berbeda’. Berbeda lokasi karena dipindahkan, dan berbeda prosesi tanpa pengibaran bendera. Namun, justru dalam perbedaan itulah terpancar esensi sejati. Khidmat tidak terletak pada kemewahan tempat atau banyaknya ritual, tetapi pada ketulusan hati, keteguhan tekad, dan kemurnian niat untuk mengenang, menghayati, dan mengamalkan.
Hujan boleh saja mengguyur bumi Tebing Tinggi, tetapi ia tidak mampu mengguyur semangat kesatuan dan persatuan yang dirajut oleh Pancasila. Perpindahan lokasi dan penyesuaian protokol justru menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai ketangguhan, gotong royong, dan kebijaksanaan—yang merupakan jiwa dari Pancasila—tetap hidup dan diamalkan oleh segenap warga Kota Tebing Tinggi. Kesaktian Pancasila sekali lagi terbukti: ia mampu beradaptasi, bertahan, dan tetap relevan di segala kondisi.












