Jagung dan Kepedulian: Ketika Polisi Hadir Bukan Hanya untuk Tegakkan Hukum, Tapi Juga Wujudkan Kesejahteraan Petani Asahan
Tebingtinggi Cerita– Di sebuah senja yang mulai menepi, Rabu (9/10/2025), bukan hanya langit jingga yang menjadi saksi di Kantor Bulog Cabang Asahan. Sebuah pemandangan yang mungkin tak biasa, namun sarat makna, terlihat jelas. Seragam polisi khaki dan hijau tosca berdampingan dengan para petani, bukan dalam situasi konflik, tetapi dalam semangat kebersamaan. Mereka hadir untuk memastikan butir-butir emas dari bumi—jagung—dari Kelompok Tani Sahata, sampai ke tangan negara dengan lancar.
Pukul 17.30 WIB, kegiatan yang mungkin terlihat sederhana ini dimulai. Dipimpin langsung oleh Kapolsek Labuhan Ruku, AKP Cecep Suhendra, rombongan yang terdiri dari personel Bhabinkamtibmas turun langsung mendampingi proses penjualan. Nama-nama seperti Aipda Padil Puri Nasution (Bhabinkamtibmas Desa Mekar Mulio), Brigadir Nicolas Lintong Situmorang (Bhabinkamtibmas Benteng Jaya), Aipda Syamsir Ginting, dan Briptu H. Silaen, mungkin biasa terdengar dalam laporan patroli, namun malam itu, peran mereka bertransformasi menjadi “pelayan dan pelindung petani”.
Lebih dari Sekadar Pendampingan: Sebuah Aksi Nyata
Pendampingan ini tidak sekadar seremonial belaka. Ini adalah aksi nyata yang terukur dan penuh empati. AKP Cecep Suhendra tidak hanya berdiri dan mengawasi dari jauh. Ia dan anggotanya terjun langsung, memastikan setiap proses, mulai dari administrasi hingga penimbangan, berjalan dengan transparan dan adil bagi petani.
Yang membuat cerita ini semakin menarik adalah kontribusi personal dari setiap personel polisi. Mereka tidak hanya mendampingi, tetapi juga turut serta menjadi bagian dari rantai pemasaran. Secara kolektif, mereka membantu menjual total 3.563,25 Kg jagung. Rinciannya menunjukkan komitmen yang terbagi rata: Aipda Padil Puri Nasution dan Brigadir Nicolas Lintong Situmorang masing-masing menjual 1.000 Kg, sementara Aipda Syamsir Ginting dan Briptu H. Silaen menyusul dengan kontribusi masing-masing 781,625 Kg.
Baca Juga: Dalam Rangka Syiar Islam, Pemkot Tebing Tinggi Gelar MTQ ke-54
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada upaya ekstra para Bhabinkamtibmas yang mengenal baik lahan dan keringat para petani di desa binaannya. Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan hasil bumi dari tingkat desa langsung ke gudang Bulog, memotong mata rantai distribusi yang seringkali tidak menguntungkan petani.
Misi Di Balik Seragam: Polri dan Kesejahteraan Petani
Dalam pernyataannya, AKP Cecep Suhendra dengan tegas menyatakan bahwa aksi ini adalah bentuk nyata dukungan Polri terhadap petani lokal. “Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan Polri terhadap petani lokal dalam memasarkan hasil pertanian mereka,” ujarnya.
Pernyataan singkat itu memiliki resonansi yang dalam. Ia menggeser paradigma lama tentang polisi yang hanya hadir saat ada masalah. Di Labuhan Ruku, Polsek setempat menunjukkan bahwa salah satu bentuk pengamanan dan ketertiban (kamtibmas) yang paling hakiki adalah dengan memastikan roda perekonomian warga, khususnya para petani, berjalan lancar. Ketika petani sejahtera karena hasil jerih payahnya terjual dengan baik dan fair, maka ketenteraman sosial akan lebih mudah terwujud.
Ini adalah implementasi dari fungsi Bhayangkara dalam arti yang sesungguhnya: pelindung dan pengayom masyarakat. Kehadiran mereka di Bulog malam itu adalah simbol bahwa negara, yang diwakili oleh institusi Polri dan Bulog, hadir untuk meringankan beban dan membuka akses bagi para pelaku usaha di tingkat akar rumput.
Dampak dari pendampingan seperti ini multidimensi:
-
Ekonomi Langsung: Petani mendapatkan kepastian pasar dan harga yang ditetapkan pemerintah melalui Bulog, tanpa harus khawatir dengan permainan tengkulak.
-
Psikologis: Petani merasa dilindungi dan didukung oleh aparat keamanan. Hubungan yang terbangun bukan lagi hubungan “yang diawasi” dan “yang mengawasi”, tetapi kemitraan untuk kesejahteraan bersama.
-
Sosial: Membangun kepercayaan masyarakat yang lebih besar terhadap institusi Polri dan pemerintah. Aksi nyata seperti ini lebih efektif daripada seribu kata-kata dalam membangun citra positif.












