Echinoderma asperum Jamur Berpenampilan Cantik Tapi Berbahaya: Echinoderma asperum Ditemukan di Taman Kota
Tebingtinggi Cerita Echinoderma asperum Sebuah penemuan menarik sekaligus peringatan datang dari komunitas pecinta jamur di Taman Kota Bandung. Beberapa anggota komunitas mikologi melaporkan kemunculan jamur Echinoderma asperum, yang dikenal dengan penampilan mencolok tapi juga berpotensi beracun.
Jamur ini memiliki bentuk tudung berwarna cokelat kemerahan dengan sisik tajam seperti duri kecil di permukaannya. Penampakannya menarik, tetapi para ahli mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh atau memetik jamur ini sembarangan.
“Jamur ini sering disangka jamur payung biasa, padahal bisa berbahaya, terutama bila dikonsumsi bersama alkohol,” ujar Dr. Nina Pratiwi, ahli biologi dari Universitas Padjadjaran. “Beberapa laporan menunjukkan gejala seperti mual, muntah, bahkan reaksi seperti keracunan jika dikonsumsi tanpa pengetahuan yang tepat.”
yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai Lepiota aspera, merupakan jamur saprofit yang hidup di tanah kaya humus, tumpukan daun, atau serpihan kayu. Meski banyak ditemukan di Eropa dan Amerika Utara, jamur ini kini juga tercatat tumbuh di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan taman kota dan hutan perkotaan.

Baca Juga: Bursa Transfer – Antisipasi Luis Diaz Cabut, Liverpool Incar Bintang Real Madrid Sebagai Pengganti
Menurut pengamatan di lapangan, jamur ini muncul setelah hujan lebat dan berkembang cepat di lingkungan yang lembap. Warnanya yang kontras dengan tanah membuatnya mudah dikenali — dan sayangnya juga sering jadi sasaran anak-anak yang penasaran.
Bahaya utama dari Echinoderma asperum bukan hanya pada zat racun potensial, tapi juga kemampuannya menimbulkan reaksi tubuh terhadap alkohol, mirip dengan efek obat disulfiram yang digunakan untuk terapi kecanduan alkohol. Oleh karena itu, meski belum sepenuhnya terbukti beracun berat, jamur ini masuk dalam kategori “tidak layak konsumsi” oleh banyak pakar mikologi.
Sebagai upaya edukasi, pemerintah kota melalui Dinas Lingkungan Hidup telah memasang papan peringatan di area-area tempat jamur tersebut tumbuh.
“Kami harap masyarakat bisa mengapresiasi keindahan alam tanpa merusaknya atau mengambil risiko kesehatan,” kata perwakilan dinas dalam siaran pers singkat.
Para peneliti menyarankan untuk hanya mengamati jamur ini sebagai objek alam yang unik dan indah, serta menghindari segala bentuk konsumsi tanpa identifikasi dan pengetahuan mendalam.
Fakta Singkat: Warna tudung: Cokelat kemerahan dengan sisik seperti duri kecil
-
Ukuran: Hingga 10 cm
-
Habitat: Tanah humus, kebun, taman, hutan kota
-
Status: Tidak layak konsumsi
-
Efek samping: Dapat menyebabkan reaksi jika dikonsumsi bersamaan dengan alkohol
