Banjir Kiriman Melanda Tebing Tinggi, Tanggul Sungai Bahilang Jebol di Sergai
Tebingtinggi Cerita– Kota Tebing Tinggi kembali merintih diterjang banjir pada Minggu sore (12/10/2025). Namun, kali ini, air yang merendam ratusan rumah dan jalanan bukan sekadar hujan lokal, melainkan “banjir kiriman” yang ganas, bersumber dari meluapnya Sungai Bahilang akibat jebolnya tanggul di Desa Sibulan, Kecamatan Tebing Syahbandar, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Peristiwa ini mengubah kawasan pemukiman warga menjadi lautan coklat dalam hitungan jam, menyisakan kepanikan dan kerugian material yang besar.
Detik-Detik Kepanikan Saat Air Mendadak Masuk
Suasana tenang di akhir pekan sirna seketika. Vita, seorang warga Lingkungan 3, Kelurahan Tualang, masih membekukan ingatannya tentang detik-detik air mulai naik.
“Sekitar pukul 16.30 WIB, tiba-tiba air datang begitu deras. Bukan merembes, tapi langsung masuk deras ke dalam rumah seperti ada yang mendorongnya,” ujar Vita dengan suara bergetar. “Kami tidak sempat menyelamatkan banyak barang. Fokus utama menyelamatkan anak-anak dan dokumen penting. Dalam waktu kurang dari setengah jam, ketinggian air sudah mencapai lutut orang dewasa.”
Baca Juga: Suasana Penuh Semangat di Aula Raja Inal Siregar Sambut Program Perumahan Rakyat
Kepanikan melanda warga. Teriakan dan lengkingan sirine kendaraan yang mogok memecah kesunyian. Warga berhamburan keluar rumah, menyelamatkan apa yang mereka bisa. Perabotan, kulkas, kasur, dan motor terendam air bah yang berwarna coklat pekat dan membawa lumpur serta sampah.
Sungai Bahilang: Anugerah yang Kini Mengancam
Sungai Bahilang, yang biasanya menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya, berubah menjadi ancaman. Penyebabnya adalah jebolnya tanggul pertahanan di wilayah hulu, tepatnya di Desa Sibulan, Sergai. Tanggul yang seharusnya menahan laju air dari curah hujan yang tinggi di kawasan atas, akhirnya tidak mampu menahan tekanan dan ambrol.
Insiden ini memicu aliran air dalam volume besar yang bergerak cepat menuju daerah yang lebih rendah, termasuk Kota Tebing Tinggi. Fenomena ini yang dikenal sebagai “banjir kiriman”, di mana satu wilayah harus menanggung dampak dari kerusakan atau kelebihan kapasitas di wilayah lain.
“Ini sudah seperti ritual tahunan, tetapi yang ini lebih parah karena tanggulnya jebol. Bukan hanya air meluap, tapi seperti ada gelombangnya,” keluh Abdul Rahman, sesepuh di Kelurahan Tualang. “Kami merasa seperti korban dari ketidaksiapan daerah sebelah.”
Dampak yang Menyebar dan Respons Darurat
Banjir ini tidak hanya melanda Kelurahan Tualang. Beberapa kelurahan lain yang dilintasi atau berdekatan dengan aliran Sungai Bahilang juga ikut terendam. Aktivitas ekonomi dan transportasi lumpuh total. Jalan protokol berubah menjadi sungai, memutus akses kendaraan. Banyak pengendara yang terpaksa meninggalkan kendaraan mereka di tengah genangan.
Tim gabungan, termasuk Pemadam Kebakaran, BPBD, TNI, dan Polri, segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi. Perahu karet digunakan untuk menjangkau warga yang masih terperangkap di dalam rumah. Posko-posko bantuan darurat juga mulai didirikan untuk menampung pengungsi yang rumahnya tidak lagi layak huni.
“Kami memprioritaskan keselamatan jiwa. Evakuasi terhadap lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas adalah yang utama,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Tebing Tinggi, seperti dikutip dari media lokal. “Kami juga berkoordinasi dengan pihak Kabupaten Sergai untuk menangani sumber masalah, yaitu tanggul yang jebol.”












